Pelatihan Digital Marketing
Informasi

Pentingnya Digital Marketing bagi UMKM di Tengah Perubahan Perilaku Konsumen

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Data pemerintah menunjukkan bahwa pada tahun 2025 jumlah UMKM di Indonesia mencapai sekitar 65,5–66 juta unit usaha, menyerap sekitar 117–119 juta tenaga kerja atau setara 97% dari total angkatan kerja nasional, serta berkontribusi sekitar 61% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Angka ini membuktikan betapa besar peran UMKM dalam menopang perekonomian, sekaligus menegaskan bahwa keberlangsungan sektor ini menjadi kepentingan bersama.

Namun di balik kontribusi besar tersebut, banyak pelaku UMKM yang masih menghadapi tantangan klasik: produk bagus, pelayanan ramah, tetapi calon pelanggan belum tahu bahwa bisnis mereka ada. Persoalan ini semakin relevan ketika perilaku konsumen sudah bergeser sepenuhnya ke ranah digital.

Konsumen Sudah Berpindah ke Ranah Digital

Perubahan perilaku konsumen menjadi alasan utama mengapa digital marketing tidak lagi bisa dianggap opsional. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan berbagai survei terkini, lebih dari 77% konsumen Indonesia mencari informasi produk secara online terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli. Artinya, sebelum seseorang datang ke toko fisik atau melakukan transaksi, mereka hampir pasti sudah “bertemu” dengan bisnis tersebut secara digital — baik lewat pencarian Google, media sosial, maupun marketplace.

Fenomena ini sejalan dengan besarnya basis pengguna internet dan media sosial di Indonesia. Data yang dihimpun Statista menyebutkan terdapat 5,45 miliar pengguna internet di seluruh dunia, setara 67,1% populasi global, dengan 5,17 miliar di antaranya atau 63,7% merupakan pengguna aktif media sosial. Skala pengguna sebesar ini menjadikan kanal digital sebagai ruang pemasaran yang sangat potensial, bahkan bagi usaha berskala kecil sekalipun.

Digital Marketing Membuka Peluang yang Sebelumnya Tertutup

Salah satu keunggulan digital marketing dibandingkan pemasaran konvensional adalah keterukurannya. Setiap aktivitas — mulai dari jumlah orang yang melihat iklan, mengklik tautan, hingga melakukan pembelian — dapat dipantau dan dianalisis secara langsung. Hal ini sangat berbeda dengan promosi lewat brosur atau spanduk yang hasilnya sulit diukur secara pasti.

Lebih dari itu, digital marketing juga meruntuhkan batasan geografis yang selama ini membatasi UMKM. Usaha rumahan yang tadinya hanya dikenal di sekitar tempat tinggalnya kini bisa menjangkau pembeli dari kota lain, bahkan luar pulau, melalui marketplace dan media sosial. Contoh sederhana yang sering ditemui: pedagang keripik rumahan yang produknya bisa dikirim ke seluruh Indonesia berkat kehadiran di e-commerce, atau usaha kuliner kecil yang mendadak ramai pembeli setelah kontennya menyebar di media sosial.

Meski peluangnya besar, banyak pelaku UMKM yang masih kesulitan menerapkan strategi digital secara efektif. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sekitar 70% pengguna internet di Indonesia aktif menggunakan media sosial, menjadikannya platform yang sangat potensial untuk pemasaran produk. Sayangnya, potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan karena keterbatasan pengetahuan dan sumber daya di internal usaha.

Kesenjangan Skill Menjadi Tantangan Tersendiri

Persoalan utama yang sering dihadapi UMKM bukan soal ketiadaan niat untuk go digital, melainkan minimnya pemahaman teknis mengenai cara menjalankannya secara tepat sasaran. Banyak pelaku usaha yang sudah aktif di media sosial, tetapi belum memahami dasar-dasar seperti riset target audiens, optimasi konten agar mudah ditemukan, atau cara membaca data performa kampanye.

Di sinilah pentingnya peningkatan kapasitas melalui edukasi yang terstruktur. Berbagai institusi pendidikan dan asosiasi bisnis pun telah menyadari kebutuhan ini. Sebagai contoh, Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) menjalin kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada untuk menyelenggarakan program pelatihan digital yang secara khusus dirancang menjawab tantangan digitalisasi bagi para pelaku UMKM anggotanya. Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi digital marketing kini menjadi perhatian serius, bukan sekadar wacana.

Bagi pelaku UMKM yang ingin membangun fondasi strategi digital secara lebih terarah, mengikuti Pelatihan Digital Marketing bisa menjadi langkah awal yang tepat untuk memahami dasar-dasar riset pasar digital, pembuatan konten yang relevan, hingga cara mengukur efektivitas kampanye secara mandiri sebelum melangkah ke strategi yang lebih kompleks.

Strategi Sederhana yang Bisa Dimulai Lebih Dulu

UMKM tidak perlu langsung menggelontorkan anggaran besar untuk beriklan. Ada beberapa langkah dasar yang bisa dimulai dengan sumber daya terbatas:

  • Optimasi pencarian lokal. Memastikan bisnis muncul saat calon pelanggan mencari produk dengan kata kunci yang menyertakan nama kota atau lokasi terdekat.
  • Verifikasi dan pengelolaan Google Business Profile. Informasi bisnis yang lengkap dan ulasan positif dari pelanggan membantu meningkatkan kepercayaan calon pembeli.
  • Fokus pada 2–3 platform yang relevan. Alih-alih hadir di semua platform sekaligus, lebih baik konsisten di kanal yang memang menjadi tempat berkumpulnya target pasar.
  • Memanfaatkan tools gratis untuk monitoring. Google Search Console dan Google Analytics dapat membantu memahami dari mana pengunjung datang dan bagaimana perilaku mereka di website atau landing page.

Langkah-langkah ini tidak memerlukan biaya besar, tetapi membutuhkan konsistensi dan pemahaman dasar yang benar agar hasilnya optimal.

Penutup

Digital marketing bukan lagi sekadar pelengkap strategi bisnis, melainkan kebutuhan mendasar bagi UMKM yang ingin bertahan dan berkembang di tengah perubahan perilaku konsumen. Dengan basis pengguna internet yang sangat besar dan kecenderungan konsumen mencari informasi secara online sebelum membeli, peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar sebenarnya terbuka lebar. Tantangan terbesarnya kini bukan lagi soal akses teknologi, melainkan bagaimana meningkatkan pemahaman dan keterampilan agar strategi digital yang dijalankan benar-benar efektif dan berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *